PK GP IAIN Antasari

5 Agustus 2009

#1

Filed under: khilafah, peradaban Islam — Tag:, , , , , — pembebasaniain @ 9:16 pm

oleh Muhammad Syarafuddin

Islam paling Hebat

Islam paling Hebat

“Wajar saja jika Islam itu satu. Tidak butuh  digelayuti dengan yang lain, bergandengan atau kompromi. Menyatukan Islam dengan hal yang bukan datang dari dirinya, sama saja merusak watak dan karakter Islam itu sendiri.”

Mengatakan Islam di nomor 01 tentu saja bukan berarti saya bermaksud menyatakan, bahwa agama (Nasrani, Yahudi) atau ideologi lain (Kapitalisme, Sosialisme) adalah nomor 2, 3, 4 dan seterusnya. Tidak, tidak, sama sekali tidak. Membandingkan antara seinci Islam dengan yang lain pun, tentu tidak adil. Maka agama, ideologi, -isme yang lain, silahkan ke nomor puluh, ratus, ribu, atau ratus ribu sesudah Islam. Silahkan.

Atau bisa juga, silahkan buat daftar baru yang tersendiri. Daftar khusus untuk segala agama, ideologi dan –isme yang rusak dan gagal. Dari rangking 01 hingga akhir.

Islam adalah agama yang datang dari sumber yang satu, Allah Swt. diturunkan kepada Nabi yang satu, penutup dan tiada pengganti, yakni Muhammad Saw. untuk mengatur urusan manusia, baik kepada hubungannya dengan Tuhan-Nya, dengan dirinya sendiri, ataupun dengan sesamanya.

Islam memiliki struktur dan sistem yang unik. Memiliki akidah dan syariah. Akidah adalah konsep keyakinan sebagai aktivitas hati, sedangkan syariah, adalah pemecahan segala problem dan urusan manusia.

Islam juga adalah akidah ruhiyah (spiritual) dan akidah siyasah (politik). Pada aspek spiritual, Islam berarti agama (mengatur ibadah ritual). Sedangkan pada aspek siyasah Islam hadir sebagai mabda’ (ideologi); ruang lingkupnya meliputi sistem pemerintahan, ekonomi, politik dalam dan luar negeri, sistem hukum, budaya, dan lainnya.

Dalam mabda’, Islam dibagi lagi menjadi dua. Yakni Fikroh (konsep, thought) dan thariqah (metode pelaksanaan, method). Dua hal tersebut utuh. Keberadaan thariqah—yang membuat mabda’ ini terlaksana dalam kehidupan secara riil—adalah suatu kebutuhan dasar bagi ide itu sendiri agar mabda’ itu terwujud.

Konsekuensi memisahkan fikroh Islam dengan thariqahnya, sama saja dengan membuat Islam sebatas konsep yang menunggu di benak atau tertera di lembar-lembaran buku. Padahal, jelas sekali watak Islam sebagai dien yang aplikatif dan praktis.

Dalam perkara ideologi (mabda’) ini, Islam pun unik dan berbeda. Jika kapitalisme dan sosialisme bersumber dari akal manusia yang jenius (dan brengsek). Maka Islam datangnya dari wahyu. Implikasinya, ideologi seperti kapitalisme dan sosialisme amat rentan dan nisbi. Sangat mudah berubah mengikuti perubahan zaman dan ruang.

Islam yang datang dari wahyu dan telah Allah memaklumatkan sendiri sempurna hingga hari kiamat. Adalah keagungannya.

Islam, juga memenuhi standar kebenaran. Islam bisa diterima akal. Perkara Allah sebagai pencipta tanpa awal tiada akhir, bisa didapatkan dari perenungan manusia terhadap alam semesta, fenomena hidup dan dirinya sendiri. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. III : 190)

Muhammad Saw., sebagai Rasul pun bisa dijelaskan secara rasional. Sebab, Allah mesti menurunkan aturan bagi kita, dan itu butuh seorang utusan. Dalam hal ini, Muhammad lah Rasul itu.

Al-Qur’an sebagai satu bukti yang nyata, juga tak terbantahkan. Kemungkinannya, Cuma ada 3: Al-Qur’an adalah karangan orang atau bangsa Arab, al-Quran karangan Muhammad, atau al-Qur’an firman Allah.

Dari zaman Rasul hingga hari ini, tak ada seorang pun yang bisa membuat semisal ayat al-Qur’an—satu surah atau satu ayat sekalipun. Muhammad juga seorang Ummi (buta baca tulis). Maka, jika al-Qur’an telah kita imani, maka tentu saja semua yang ia bawa dan kabarkan pasti akan kita benarkan pula bukan ? Baik itu malaikat, hari akhir, atau qada dan qadar-Nya baik buruk dari Allah.

Islam juga sesuai dengan fitrah manusia. Berbeda sekali dengan kapitalisme yang mengumbar potensi manusia tanpa tapal batas. Dan sosialisme yang mengekang dan mereduksi manusia sebatas materi. Islam justru memahami, mengatur dan menuntun fitrah manusia. Wajar, sebab Allah Maha Tahu apa yang baik dan buruk bagi ciptaan-Nya. Sangat menentramkan jiwa.

Islam selain memiliki sistem konsep yang jelas dan sistematis. Juga memiliki perangkat yang siap dan khas. Misal, ulumul Qur’an, ulumul hadits, Ushul Fiqh dan lainnya. Sebuah perangkat dimana kaum muslimin bisa selalu menjawab tantangan dan perubahan zaman serta kompleksitas masalahnya. Lewat perangkat ushul fiqh yang unik dan digali dengan ijtihad yang ketat.

Ada dua bukti historis bagaimana Islam adalah pandangan hidup yang agung dan hebat. Generasi pertama, para sahabat. Awal mula adalah sekumpulan orang yang rendah. Mereka penyembah patung berhala, hobi mabuk, fanatisme thok dan sering perang antara kabilah, pelacuran bebas, serta hidup di Makkah yang saat itu sama sekali tidak diperhitungkan di tengah himpitan imperium Romawi dan Persia.

Tapi selesat kemudian, setelah membuang segala yang lalu dan rusak. Menerima sepenuh hati dan akal apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah. Mereka bangkit. Menggentarkan Jaziah Arab dan dua imperium raksasa tersebut. Islam selain dikenal oleh bangsa dan umat lain dengan agung, juga sebuah adidaya yang tak terkalahkan. Praktis saat Rasul meninggal, Islam telah memenuhi seantero jazirah Arab.

Dalam peradaban Islam selama 1400 tahun, setidaknya selama 700-800 tahun banyak para peneliti mengakui itulah the golden age. Yang menjadi mercusuar bagi dunia yang gelap, penuh takhayul, terbelakang dan bodoh.

Jika kita mau jujur, mengamati pasang surut, naik turunnya peradaban Islam. Sangat dan amatlah ditentukan oleh bagaimana sikap kaum muslimin itu sendiri terhadap Islam. Seberapa jernih dan deras ideologi Islam mengalir di tubuhnya. Dan seberapa kuat mereka  berpegang teguh akannya.

Ini adalah hak ideologi Islam kepada kita semua, khususnya Anda para pemuda-pemudi Islam, untuk konsisten terikat dalam keyakinan dan aktivitas dengan Islam. Mengingkarinya sama saja cari penyakit.

Maka wajar, jika kaum kafir dan musuh agama ini. selalu merongrong ideologi milik kaum muslimin. Ada sepasukan orientalis, misionaris, atheis, atau kaum munafik di tubuh umat itu sendiri.

Nah, dari sana pula akar masalah kita. Islam yang agung itu, diambil sedikit dipangkas banyak (sekuler). Islam tidak hadir dalam kehidupan kita. Menjadi bermasalah menjadi wajar, mengingat bahwa taklif (beban) hukum dalam syariah terbagi tiga. Kepada individu, kelompok (jama’ah) dan terakhir Negara (daulah). Dalam aspek Negara itulah yang hilang hari ini; sistem ekonomi, pemerintahan, politik dalam dan luar negeri, sistem hukum, dsb.

Mana mungkin bisa mengikut para penghulu generasi terdahulu jika menerapkan Islam saja masih asal-asalan. Mana bisa juga membangkitkan umat dengan perubahan indivual yang fokus hanya pada perkara spiritual dan moral. Satu – dua ratus orang memang sholeh dan berakhlak, tapi sisa jutaan lainnya hancur dimakan sistem. Ini sama saja dengan menampilkan Islam dalam satu bentuk wajah yang egoistis! Sama juga dengan mengeyampingkan hukum syariah lainnya!

Akar masalah kedua, sistem terkutuk ini sendiri. Mengkerangkeng kaum muslimin dalam nation state dengan pilihan cetek seperti politik demokrasi, ekonomi kapitalis, dan budaya hedonis.

Dari sini, bisa kita saksikan. Bahwa Islam memiliki beberapa watak tersendiri. Bahwa dia adalah ajaran yang aplikatif dan praktis. Bukan untuk rekreasi intelektual. Islam juga tak bisa dicampur dengan yang selain dari dirinya. Dari mana coba Anda bisa seenaknya berguyon bahwa Islam sesuai dan memiliki titik temu dengan demokrasi? Atau kapitalisme-sekular? Liberalisme? Atau sosialisme, orang gila mana itu!

Istilah Asy-Syahid Sayyid Quthb, orang yang mengira Islam bercampur dengan gagasan jahiliyah lainnya, itu justru menampakkan ketidakpahaman orang itu sendiri terhadap karakter Islam. Orang yang coba mempergandengkan islam dengan sistem jahilyah dalam sebuah proses perubahan, sama saja dengan bersikap inferioritas sejak awal mula berjuang.

Tentu apa yang ditulis ini hanya secuil saja dari keagungan Islam. Dan memang sedari awal tidak mungkin menggambarkannya dalam ribuan lembar kertas kuarto. Islam cuma bisa dilihat secara utuh jika segala ajarannya hadir dalam kehidupan secara praktis dan riil—syariah dan khilafah adalah harga mati!

Anda mesti paham, bahwa ketiadaan khilafah benar-benar bencana bagi kaum muslimin. Tempat ia hidup otomatis adalah darul kufur (Negara kufur). Syariah sebagai kewajiban untuk menjadi hakim (pemutus) pun hilang sudah. Maka wajar, jika umat Islam dimanapun ia berada, apapun nama negaranya; Indonesia, Palestina, Irak, Pakistan, atau Sendal Jepit, terombang – ambing bagai buih di lautan.

Secara rasional, menerapkan syariah dalam bingkai Khilafah adalah kewajiban dan prioritas utama kita bersama. Cabut akar permasalahan, lalu ganti dengan yang terbaik.

Tapi amboy, orang-orang macam ini juga masih mesti berhadapan dengan banyak tuduhan yang tidak definitif dan tendensius; literalis, ekstrimis, fundamentalis, bahkan teroris dan lainnya. Peduli setan. Perlu diingat, orang yang macam-macam dengan Islam pun juga mesti berhadapan dengan beberapa predikat. Predikat dari persfektif al-Qur’an dalam sikapnya memandang Islam hanya ada tiga saja. Pertama, yang mengimani dan berusaha mengamalkannya secara kaffah. Kedua, yang mengingkari dan menolak secara keseluruhan. Ketiga, yang tidak termasuk dua terdahulu, karena hanya menerima sebagian dan juga menolak sebagian. Dalam terminologi al-Qur’an disebut mu’minun sadiqun, kafirun, dan munafiqun.

Sebagai penutup, Islam itu tinggi, dan tak ada yang lebih tinggi darinya. Di ketinggian itu ia sendiri dan satu. Tak ada yang lain.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: