PK GP IAIN Antasari

6 Agustus 2009

Kedudukan Perempuan dalam perjuangan Syari’ah

Filed under: Demokrasi, Gerakan, khilafah, muslimah — Tag:, , , , — pembebasaniain @ 2:40 pm

Muslimah Pembebas

Muslimah Pembebas

Setelah runtuhnya daulah khilafah islamiah kondisi kaum muslimin terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang tidak memiliki kekuatan sedikitpun karena tidak adanya khalifah yang melindungi.Hampir seluruh aspek kehidupan kaum muslimin di jajah tanpa terkecuali benteng pertahanan yang paling kecil yaitu, keluarga sudah mulai mereka hancurkan disini yang menjadi sasaran mereka adalah kaum perempuan.Kenapa jadi perempuan?karna perempuan memilikki peranan yang penting dalam keluaga tidak hanya sebagai ibu tapi juga pencetak generasi umat.

Awal munculnya Gerakan Perempuan

Awal kemunculan feminisme berasal dari Barat karena di sebabkan adanya standar hukum ganda yang lebih menguntungkan kaum laki-laki.Konsep ini berasal dari ajaran agama Nasrani.Para penyokong awal feminisme menuntut penghentian kebijakan standar ganda moralitas seksual;tetapi,hal ini tidak berarti bahwa mereka menuntut pengurangan standar moral secara menyeluruh.Para penyokong awal feminisme masih menganggap bahwa upaya menjaga kehormatan (kaum perempuan) bukanlah suatu bentuk penindasan,akan tetapi merupakan suatu hal yang alamiah dan di perlukan.Pada abad ke -19,undang-undang perkawinan yang menindas tetap membatasi hak kaum perempuan dalam mencari penghasilan.Pada saat terjadi perceraian kaum perempuan mndapatkan penghinaan dalam bentuk larangan bertemu anak-anak mereka dan pemutusan dari berbagai sumber nafkah.Undang-undang perceraian benar-benar berpihak kepada kaum laki-laki.

Perkembangan sistem industri di Barat mendorong kaum perempuan untuk keluar dari rumah.Bentuk penindasan yang di lakukan oleh para pemilik industri yang menganggap perempuan sebagai buruh murah,memicu munculnya gerakan perempuan yang menuntut upah tinggi.adanya undang-undang dan praktek yang menindas kaum perempuan memunculkan kesetaraan hak dan keadilan.Serangan penyokong awal kaum feminisme telah berubah menjdi suatu gerakan,dimana kaum perempuan berusaha menatap dan menyalahkan diri mereka sendiri.Demikianlah sebuah perjuangan yang di maksudkan untuk mengubah perilaku masyarakat-khususnya kaum laki-laki serta undang-undang yang berlaku,telah berubah menjadi satu upaya untuk mengubah kaum perempuan agar sesuai dengan selera laki-laki.

Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) adalah sebuah Frasa yang lekat dengan bahasa perjuangan kaum feminisme.Sejak United Nation Development Program (UNDP) menggelobalkan konsep KKG ke berbagai dunia,khususnya negara berkembang.KKG di pandang sebagai kebutuhan mendasar bagi tercapainya keberhasilan pembangunan.Negara-negara berkembang (mayoritas adalah negara muslim) di dorong untuk segera mengadopsi konsep ini,dan kemudian memasukkannya dalam berbagai program pembangunan.

KKG sering di kaitkan dengan diskriminasi terhadap perempuan, subordinasi, penindasan, marjinalisasi dan semacamnya. Upaya untuk menghilangkan diskriminasi tersebut adalah dengan menyetarakan gender, Upaya tersebut di lakukan melalui program pelatihan gender untuk membangkitkan kesadaran perempuan,pelatihan isu-isu gender,dan pemberdayaan perempuan.

Pada tanggal 13-17 februari lalu tahun 2009 di adakan pertemuan musawah di malaysia,di hadiri oleh lebih dari 250 ulama dan pemikir muslim dari 48 negara.Apa yang di tuntut dalam pertemuan ini adalah “pembaharuan”hukum islam dalam keluarga muslim terkait dengan usia perkwinan,izin pekawinan,wali perkawinan,saksi untuk perkawinan,poligami,nikah sirri,nusyud,perceraian,dan kawin mut’ah.

Perjuangan Feminisme di Indonesia

Di Indonesia ada dua jalur yang di lakukan kaum liberal dalam memperjuangkan nasib kaum perempuan yaitu jalur struktural dan jalur kultural.Jalur struktural adalah dengan jalan mempengaruhi aturan negara yaitu UU yang ada sesuai dengan apa yang mereka perjuangkan.Adanya kompilasi hukum islam yang sudah menjadi rujukan pemerintah dalam menyelesikan permsalahan keluarga di anggap tidak bisa melindungi kaum perempuan.Karena itu kaum liberal menyiapkan counter legal draft kompilasi hukum islam (CLD KHI) yang di launching tahun 2004 oleh tim pokja PUG Depag RI upaya untuk melegalkan CLD KHI namun gagal.Tetapi ternyata tidak sampai di situ saja mereka masih tetap mensosialisasikan nilai-nilai dalam CLD KHI.Di sahkan nya PKDRT adalah salah satu keberhasilan mereka dalam membela kaum perempuan Indonesia.
Bila kita membaca CLD-KHI yang di susun oleh kaum liberalis sebagai tandingan KHI yang sudah ada,nampak bahwa mereka punya cara pandang yang berbeda dalam memaknai pernikahan.Menurut mereka tujuan pernikahan tidak lagi sakinah-mawaddah-warahmah tetapi mencakup juga kesepakatan,kesetaraan,keadilan,kemashalatan,pluralisme dan demokrasi.Karena itu mereka mengajukan hukum baru tentang pernikahan berdasarkan tujuan tersebut.Diantaranya pernikahan tidak lagi di anggap ibadah tetapi berupa akad sosial kemanusian (mu’amalah),memasukkan pencatatan nikah sebagai rukun pernikahan,perempuan bisa menikahkan dirinya sendiri,dan menjadi wali dalam pernikahan,mahar bisa di berikan oleh calon suami atau calon istri,nikah mut’ah (pernikahan dengan pembatasan waktu) adalah buleh,pernikahan antar agama di bulehkan,istri di beri hak talak dan rujuk, poligami dilarang,dsb.Kaum liberalis telah merumuskan nalar penarikan hukum baru versi CLD-KHI dengan cara memsukkan perspektif demokrasi,HAM,pluralitas dan kesetaraan gender dalam memahami sumber utama hukum islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Telah jelas bahwa upaya mereformasi hukum keluarga muslim dengan cara melahirkan hukum baru versi liberal dengan dalih melindungi perempuan sesungguhnya adalah upaya untuk mendiskriditkan syari’ah islam.Penafsiran mereka terhadap nash justru menjebak umat islam ke dalam perangkap hukum sekuler.

Awas! Jebakan kaum liberal

Sekarang ini kaum feminis di dorong untuk duduk di lembaga perwakilan rakyat demi meraih keadilan dan kesetaraan gender yang sebenarnya malah makin mmbuat mereka terjebak dengan ide KKG yang akan menguatkan arus liberalisme .sejatinya, berapa pun jumlah kaum perempuan di parlemen tidak akan pernah mampu mengangkat nasib perempuan selama sistem yang di anut adalah kapitalis sekuleris bahkan malah akan menyengsarakan kaum perempuan.Karna system ini selamanya tidak akan pernah berpihak pada kaum perempuan.Tidak ada solusi tuntas kecuali mengganti sistem yang tidak memenuhi hak-hak perempuan (maupun laki-laki) dengan sistem mampu menyelesaikan masalah perempuan dan (maupun laki-laki) yaitu sistem dari Allah SWT.

Kedudukan Perempuan dalam pandangan Syari’ah

Islam telah mengangkat martabat dan kedudukan kaum perempuan jauh lebih tinggi dari pada yang di sadari kaum feminis saat ini.dengan sudut pandang sekulerisme bahkan standar-standar atheisme.Banyak kalangan yang menghujat gaya hidup yang di tentukan Allah bagi kaum perempuan dan kaum laki-laki,tanpa memahami dan memikirkan lebih dalam tentang apa yang mereka kritisi.Padahal, islam merupakan satu-satunya konsep kehidupan yang telah mengangkat kedudukan kaum perempuan dari jurang penindasan yang teramat dalam menuju sebuah kedudukan yang penuh kemuliaan dan kemerdekaan; sebuah kedudukan yang bahkan belum dapat di wujudkan oleh”peradapan modern’ seperti sekarang ini.

Keadilan dalam pandangan Syari’ah

Hanya syari’ah islamlah yang mampu memberikan keadilan dan kesetaraan yang menjadi aspirasi perempuan selama ini.Karna dari awal islam sangat memuliakan kaum perempuan dan mendudukkan nya pada posisi yang sama dengan kaum laki-laki.Perempuan memilikki hak yang sama dengan laki-laki di bidang spiritual,pendidikan,politik bahkan ekonomi .Kaum permpuan di bulehkan mencari penghasilan untuk dirinya sendiri tanpa harus meninggalkan kewajibanya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.Jika ada perbedaan pun antara laki-laki dan perempuan itu karena Allah telah menciptakan bentuk dan faal tubuh tertentu pada laki-laki dan perempuan.perbedan-perbadaan semacam ini menuntut keduanya mendapat tugas-tugas tertentu dalam kehidupan yang berbeda dengan satu dengan yang lain.Telebih lagi,hal-hal yang di dalamnya terdapat perbedaan dalm pembentukan moral.Oleh karenanya menuntut kesetaraan antara keduanya merupakan tindak kedzaliman terhadap salah satu dari kedua belah pihak tersebut.Allah telah memberikan hukum syara khusus kepada masing-masing dari keduanya dan akan di minta pertanggung jawaban;di mana satu dengan lainnya berbeda.Dalam hal ini Allah telah memposisikan perempuan pada posisi yang sesuai dengan dirinya.Jelas sudah bahwa di dalam Islam kaum perempuan tidak perlu meminta apalagi menuntut atau memperjuangkan keadilan dan kesetaran karena kaum perempuan di dalam syari’ah sudah mendapatkan haknya secara adil.Dan apa yang menjadi aspirasi perempuan tidak harus di realisasikan oleh kaum perempuan sendiri,laki-lakipun bisa merealisasikannya dengan di terapkannya syari’h islam yang dapat memberikan keadilan dan kesejahteraan tidak hanya bagi perempuan tetapi juga bagi kaum laki-laki.Wallahu a’lam.

Oleh: Linda Lestari
(Ketua Muslimah Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komsat IAIN Antasari)

Refferences:
Ismail adam Patel Perempuan.Feminisme,dan Islam.Pustaka Thariqul Izzah,Bogor,2005.
Muhammad Husain Abdullah.Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam.Pustaka Thariqul izzah,Bogor,2006.
Al-Wa’ie,No.75 Tahun VII,1-30 November 2006
Ir.Ratu Erma Rachmayanti.Pernikahan dalam pandangan Liberalis.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: