PK GP IAIN Antasari

3 April 2009

Foto Kajian Intelektual Pembebasan, 01 April 2009

Filed under: Ekonomi, foto, Kegiatan, KIP — Tag:, , , — pembebasaniain @ 3:37 pm

GP Komsat IAIN, kembali mengadakan Kajian intelektual Pembebasan di tiap minggu, dan pada minggu ini, mereka mengundang Ketua umum GP komsat Poliban, Joko Priyono. guna mengisi kajian yang mereka adakan, rabu, 01 April 2009, di taman hijau IAIN Antasari.

Dalam materinya, Joko mengemukakan privatisasi bukanlah solusi, yang sering digembar-gemborkan kaum liberal, namun itu semua adalah pengkhiatan mereka kepada rakyat.

Selain membongkar kebobrokan privatisasi, Joko juga mengaitkan tema tersebut dengan pemilu di Indonesia, dimana itu semua punya keterkaitan.

Joko Priyono - Ketua GP Komsat POLIBAN

foto002

lingkaran-kajian-pada-awal-acara

dari kanan - Najad (ketua GP ranting fakultas syariah IAIN antasari) dan tamu dari gp poliban

maghfur

dari kanan - amin - najad - tamu

lingkaran kajian di tengah acara - mulai tambah banyak

tampak depan

Ardi dan Joko

pengurus komsat IAIN dan komsat poliban 1

IAIN & Poliban

Iklan

PRIVATISASI; SEBUAH PENGHIANATAN*

Filed under: Ekonomi, khilafah, Materi Kajian — Tag:, , , — pembebasaniain @ 2:46 pm

Oleh: Joko Priyono (Mahasiswa POLIBAN Prodi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah – Ketua GP Komisariat Politeknik Negeri Banjarmasin)

Byron Dorgan (senator dari North Dakota, AS) : “Unocal berada di AS dan telah menghasilkan 1,75 miliar barrel minyak. Sangat bodoh bila perusahaan ini menjadi milik asing,”

Tegas dan jelas menolak asingisasi perekonomian Amerika Serikat. Begitulah sikap politisi dan pemerintah AS menanggapi keinginan BUMN Cina CNOOC untuk mengakuisisi perusahaan swasta nasionalnya Unocal yang bergerak di bidang migas.

Sikap penolakan AS ini bertentangan dengan agenda Neoliberal yang dikampanyekan AS sendiri. Memang bukan tanpa alasan AS menolak pengambilalihan Unocal oleh Cina. AS memandang membiarkan Unocal menjadi milik asing merupakan tindakan bodoh yang akan mengancam keamanan nasional. Bagi AS lebih baik menjilat ludah sendiri daripada menjual diri.

Berbeda dengan sikap AS, sebagai negara berkembang Indonesia mengambil kebijakan yang jauh lebih liberal. Indonesia sangat berani menjual BUMN-BUMN strategis kepada asing dan swasta nasional. Bahkan untuk memuluskan liberalisasi perekonomian Indonesia, DPR telah mengesahkan Undang-Undang Penanaman Modal tahun 2007.

Kebohongan Privatisasi

Privatisasi adalah pemindahan kepemilikan aset-aset milik negara kepada swasta dan asing (Mansour: 2003). Namun Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN mempercantik makna privatisasi dengan menambahkan alasan dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas kepemilikan saham masyarakat. Berdasarkan pengertian privatisasi dalam undang-undang BUMN, visi Kementerian Negara BUMN tentang privatisasi adalah “Mendorong BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan guna menjadi champion dalam industrinya serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan sahamnya” (www.bumn-ri.com). Sementara itu dalam program privatisasi tahun 2008 alasan yang dikemukakan oleh Sofyan Djalil adalah: “Privatisasi BUMN dilakukan tidak untuk menjual BUMN, melainkan untuk memberdayakan BUMN itu sendiri, sehingga akan menjadikan BUMN lebih transparan dan dinamis” (Kominfo Newsroom, 21/1/2008).


“BUMN, jangan sampai menjadi ajang penjarahan bagi kalangan Yudikatif maupun Eksekutif, seperti di masa lalu, kata Mantan Menneg BUMN, Laksamana Sukardi. Ditambahkannya lagi BUMN, selama ini menjadi tempat pembiakan korupsi, sehingga nantinya diharapkan akan ditangani secara lebih profesional.

Kalaupun terjadi PHK, maka harus diberikan kompensasi dalam jumlah tinggi,
seperti yang pernah dilakukan PT Telkom, tegasnya.Dari segi ekonomi mikro meningkatkan produktivitas, profitabilitas, efisiensi dan pengurangan utang perusahaan BUMN. Privatisasi juga diharapkan dapat meningkatkan good corporate governance (GCG), masuknya sumber keuangan baru ke perusahaan, dan pengembangan pasar. Manfaat alih teknologi dan peningkatan jaringan juga diharapkan dalam provatisasi BUMN yang melalui proses strategic sale.
Dari sisi ekonomi makro, tujuan privatisasi beroroentasi pada ekonomi fiskal, yaitu untuk menambah anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pemerintah, perbaikan iklim investasi, dan pengembangan pasar modal. Obyektivitas ekonomi politik bertujuan melindungi asset nasional dengan pertimbangan melindungi bidang usaha yang berkaitan dengan nasionalisme, keamanan negara dan sumber daya alam.

Namun ternyata Privatisasi tidak semanis apa yang digambarkan diatas seperti pada poin meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan saham BUMN. Sekilas masyarakat luas dilibatkan dalam kepemilikan BUMN, padahal kita tahu bahwa yang dimaksud masyarakat bukanlah pengertian masyarakat secara umum, tetapi memiliki makna khusus yaitu investor.

Sebagaimana metode privatisasi BUMN dilakukan dengan IPO dan strategis sales, maka yang membeli saham-saham BUMN baik sedikit ataupun banyak adalah investor di pasar modal apabila privatisasi dilakukan dengan cara IPO, dan investor tunggal apabila privatisasi menggunakan metode strategic sales. Investor di pasar modal maupun investor tunggal bisa berasal dari dalam negeri atau dari luar negeri. Sementara yang dimaksud investor itu sendiri adalah individu yang melakukan investasi (menurut situs http://www.investordictionary.com, investor didefinisikan sebagai: An individual who makes investments). Jadi tidak mungkin privatisasi akan menciptakan kepemilikan masyarakat, sebab kehidupan masyarakat sudah sangat sulit dengan mahalnya harga-harga barang pokok, pendidikan, dan kesehatan, bagaimana bisa mereka dapat berinvestasi di pasar modal. Apalagi hingga akhir tahun 2007 investor asing menguasai 60% pasar modal Indonesia sehingga memprivatisasi BUMN melalui IPO jatuhnya ke asing juga. Sedangkan investor lokal, mereka ini juga kebanyakan para kapitalis yang hanya mengejar laba, apalagi konglomerat-konglomerat yang dulu membangkrutkan Indonesia sudah banyak yang comeback.

Menurut Dr. Mansour Fakih (2003) dalam bukunya Bebas dari Neoliberalisme, istilah privatisasi biasa dibungkus dengan istilah dan pemaknaan yang berbeda-beda. Misalnya, privatisasi perguruan tinggi negeri (PTN) dibungkus dengan istilah otonomi kampus, dan istilah privatisasi BUMN dimaknai sebagai meningkatkan peran serta masyarakat. Tujuan pembungkusan istilah dan makna privatisasi ini adalah untuk mengelabui pandangan publik. Pernyataan Sofyan Djalil bahwa privatisasi BUMN bukanlah untuk menjual BUMN melainkan untuk memberdayakan BUMN adalah pernyataan yang menyesatkan.

Sementara itu, langkah-langkah kebijakan privatisasi di Indonesia selaras dengan sebuah dokumen milik Bank Dunia yang berjudul Legal Guidelines for Privatization Programs. Dalam dokumen ini terdapat panduan bagaimana pemerintah melakukan kebijakan privatisasi dengan menghilangkan persoalan hukum. Pertama, memastikan tujuan-tujuan pemerintah dan komitmen terhadap privatisasi. Kedua, amandemen undang-undang atau peraturan yang merintangi privatisasi. Ketiga, ciptakan institusi yang memiliki kewenangan dalam implimentasi privatisasi. Keempat, hindari kekosongan kewenangan kebijakan privatisasi yang dapat menyebabkan kebijakan privatisasi tidak dapat dijalankan.

Dalam dokumen USAID Strategic Plan for Indonesia 2004-2008 disebutkan bagaimana lembaga bantuan Amerika Serikat ini bersama Bank Dunia aktif terhadap permasalahan privatisasi di Indonesia. Sementara itu ADB dalam News Release yang berjudul Project Information: State-Owned Enterprise Governance and Privatization Program tanggal 4 Desember 2001, memberikan pinjaman US$ 400 juta untuk program privatisasi BUMN di Indonesia. ADB menginginkan peningkatan partisipasi sektor swasta dalam BUMN yang mereka sebut bergerak di sektor komersial. Jadi lembaga-lembaga keuangan kapitalis, negara-negara kapitalis, dan para kapitalis kalangan investor sangat berkepentingan terhadap pelaksanaan privatisasi di Indonesia. Sebaliknya rakyat Indonesia sangat tidak berkepentingan terhadap privatisasi. Para kapitalis ini menginginkan pemerintah Indonesia membuka ladang penjarahan bagi mereka. Mereka sebenarnya tidak mengharapkan perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia, tapi yang mereka inginkan adalah merampok kekayaan Indonesia.

Adapun apa yang sering mereka katakan bahwa privatisasi bertujuan peningkatan efisiensi dan pemberantasan korupsi adalah sangat tidak berdasar. DR. Mansour Fakih (2003) menjelaskan tidak ada kaitan antara BUMN yang bersih dengan pemindahan kepemilikan ke tangan investor. Justru kita menyaksikan malapetaka perekonomian dunia tahun 2001 diawali oleh korupsi besar-besaran yang dilakukan perusahaan raksasa dunia seperti Worldcom dan Enron. Di Indonesia kalangan swasta (kebanyakan warga keturunan) melakukan korupsi besar-besaran dalam bentuk KLBI dan BLBI.

Untuk memberantas korupsi di BUMN bukanlah dengan cara privatisasi melainkan dengan penegakkan hukum yang tegas dan keras tanpa pandang bulu, sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengatakan “Hancurnya umat-umat terdahulu adalah tatkala kalangan rakyat jelata melakukan pelanggaran, mereka menerapkan hukum dengan tegas, tetapi manakala pelanggar itu dari kalangan bangsawan, mereka tidak melaksanakan hukum sepenuhnya. Oleh karena itu, sekiranya Fathimah putri Rasulullah mencuri, pasti kopotong tangannya”. Sudah menjadi rahasia umum BUMN menjadi sapi perahan para pejabat, politisi, swasta, dan orang dalam BUMN itu sendiri. Kita juga mengetahui saat ini permasalahan korupsi sangat parah dari pemerintahan di pusat sampai tingkat RT, dari DPR pusat sampai DPRD tingkat kabupaten/kota. Namun sampai saat ini belum ada kebijakan yang tegas dan jelas dari pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

Bahaya-Bahaya Privatisasi

Meskipun diiklankan bahwa privatisasi akan menghasilkan keuntungan-keuntungan, namun privatisasi sebenarnya menimbulkan bahaya-bahaya yang akhirnya menafikan dan menghapus keuntungan yang diperoleh. Bahaya atau kerugian yang paling menonjol adalah :

1. Tersentralisasinya aset suatu negeri –di sektor pertanian, industri, dan perdagangan– pada segelintir individu atau perusahaan yang memiliki modal besar dan kecanggihan manajemen, teknologi, dan strategi. Artinya, mayoritas rakyat tercegah untuk mendapatkan dan memanfaatkan aset tersebut. Aset tersebut akhirnya hanya beredar di antara orang-orang kaya saja. Dengan demikian, privatisasi akan memperparah buruknya distribusi kekayaan.

2. Privatisasi di negeri-negeri Islam yang dibarengi dengan dibukanya pintu untuk para investor asing –baik perorangan maupun perusahaan— berarti menjerumuskan negeri-negeri Islam dalam cengkeraman imperialisme ekonomi. Sebab, individu atau perusahaan kapitalis itulah yang nantinya akan menguasai dan mengendalikan negeri-negeri Islam. Selanjutnya, akan terjadi perampokan kekayaan negeri-negeri Islam dan sekaligus pengokohan dominasi politik atas penguasa dan rakyat negeri-negeri Islam tersebut. Para investor asing itu jelas hanya akan mencari laba sebesar-besarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya, tanpa mempedulikan kebutuhan rakyat terhadap barang dan jasa. Mereka juga tak akan mempedulikan upaya membangkitkan industri negeri-negeri Islam. Ironisnya, beberapa negeri Islam yang tunduk pada ketentuan privatisasi memberikan sebutan “strategic partner” (mitra strategis) kepada para investor asing tersebut. Tentu, maksudnya adalah untuk memberikan image bahwa mereka itu “baik”, seraya menyembunyikan hakikat yang sebenarnya.

3. Pengalihan kepemilikan –khususnya di sektor industri dan pertanian– dari kepemilikan negara/umum menjadi kepemilikan individu, umumnya akan mengakitbatkan PHK, atau paling tidak pengurangan gaji pegawai. Sebab investor dalam sistem ekonomi kapitalis cenderung beranggapan bahwa PHK atau pengurangan gaji pegawai adalah jalan termudah dan tercepat untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan kualitas produk. Pada gilirannya, jumlah pengangguran dan orang miskin akan bertambah. Padahal sudah diketahui bahwa pengangguran dan kemiskinan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat, tingkat produksi, dan pertumbuhan ekonomi.

4. Menghapuskan kepemilikan umum atau kepemilikan negara artinya adalah negara melepaskan diri dari kewajiban-kewajibannya terhadap rakyat. Negara tidak akan sanggup melaksanakan banyak tanggung jawab yang seharusnya dipikulnya, karena negara telah kehilangan sumber-sumber pendapatannya. Negara tak akan mampu lagi memenuhi secara sempurna kebutuhan pokok bagi rakyat yang miskin. Negara juga tak akan dapat lagi memenuhi kebutuhan rakyat dalam bidang kesehatan dan pendidikan secara layak, dan lain-lain.

5. Negara akan disibukkan untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru untuk menggantikan sumber-sumber pendapatan yang telah dijualnya. Dan negara tak akan mendapatkan sumber lain yang layak, selain memaksakan pajak yang tinggi atas berbagai pabrik, sektor, dan badan-badan usaha yang telah dijualnya maupun yang memang dimiliki oleh individu. Jelas ini akan melambungkan harga-harga dan tarif-tarif yang membebani masyarakat.

6. Dana yang diperoleh negara dari penjualan kepemilikan umum atau negara, umumnya tidak dikelola dalam sektor-sektor produktif. Sebagian besarnya akan habis –sesuai dikte dari lembaga-lembaga internasional seperti IMF—untuk dibelanjakan pada apa yang disebut dengan “pembangunan infrastruktur”, “pelestarian lingkungan”, “pengembangan sumber daya manusia”, dan sebagainya. Semua ini jelas merupakan pintu-pintu untuk menyerap modal asing dari luar. Ini merupakan tindakan menghambur-hamburkan kekayaan umat, dengan jalan membelanjakan harta umat untuk kepentingan investor asing.

7. Menghalangi masyarakat umumnya untuk memperoleh hak mereka, yaitu memanfaatkan aset kepemilikan umum, seperti air, minyak, sarana transportasi air, dan pelabuhan-pelabuhan. Dengan demikian, privatisasi merupakan kezhaliman yang merusak penghidupan rakyat.

8. Privatisasi media massa –khususnya televisi dan radio—akan memberi peluang masuknya serangan pemikiran dan budaya kapitalis. Ini menimbulkan bahaya peradaban bagi umat, karena umat akan dicekoki pola pikir dan pola jiwa kufur, dengan standar moral dan perilaku ala Barat yang bejat dan rendah.

Inilah beberapa dampak privatisasi yang akan menimpa umat Islam, bila program privatisasi terus dijalankan oleh negara. Dan tentunya, ini baru sebagian saja, sebab masih ada berbagai bahaya dan kemudharatan lain akibat privatisasi.

Pandangan Syariat

Apa yang dlakukan pemerintah dengan menjual perusahaan-perusahaan, dan badan usaha milik negara kepada pihak-pihak perorangan atau kepada investor asing, adalah tindakan yang HARAM menurut syara’, karena alasan-alasan berikut :

Pertama, negara tidak berhak menjual aset-aset kepemilikan umum, karena aset ini bukan miliknya, tetapi milik umum. Islam telah melarang menjual suatu barang yang tidak dimiliki oleh penjual. Jika jual beli seperti ini terjadi, maka jual belinya batil alias tidak sah.

Islam telah menjelaskan bahwa kepemilikan umum adalah,”Izin dari Asy Syari’ (Allah) kepada masyarakat umum untuk berserikat dalam memanfaatkan barang.” Islam telah menentukan tiga jenis kepemilikan umum :

1. Barang yang menjadi kebutuhan orang banyak, seperti air, padang gembalaan, dan sumber-sumber energi. Nabi SAW bersabda,”Kaum muslimin berserikat dalam tiga barang; air, padang gembalaan, dan api.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Tambang yang berkapasitas produksi besar. Telah diriwayatkan dari Abyadl bin Jamal, bahwa dia pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu dia meminta Rasulullah agar memberinya tambang garam, dan Rasululullah pun memberinya. Ketika Abyadl pergi, seorang shahabat di majelis berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya Anda telah memberikan kepadanya sesuatu (yang bagaikan ) air mengalir.” Rasulullah kemudian menarik kembali pemberian tersebut.Orang tersebut menyerupakan tambang garam dengan air mengalir, karena banyaknya produksi pada tambang garam tersebut. Ini mencakup pula setiap tambang dengan produksi dalam kuantitas yang banyak atau menguntungkan secara ekonomis, seperti tambang minyak, gas, fosfat, tembaga, dan sebagainya.

3. Barang-barang yang dilihat dari tabiat bentuknya tidak mungkin dimiliki oleh individu, seperti laut, sungai, atmosfer udara, dan sebagainya.

Inilah ketiga jenis barang yang merupakan kepemilikan umum yang dapat dimanfaatkan secara bersama oleh seluruh individu rakyat. Dalam hal ini, peran negara hanya pengelola dan pengontrol pemanfaatannya, bukan pemilik.

Maka dari itu, negara tidak boleh menjual atau memberikan kepada pihak siapa pun, sebab ketiga jenis barang itu adalah milik umum, bukan milik negara. Andaikata negara meminta persetujuan rakyat (melalui lembaga legislatif) untuk menjualnya, dan rakyat menyetujuinya, negara tetap tidak boleh menjualnya. Sebab, status kepemilikan umum didasarkan fakta barangnya, bukan didasarkan pada faktor yang lain, seperti persetujuan, perjanjian, dan sebagainya. Jika faktanya adalah tambang minyak, misalnya, maka statusnya adalah tetap kepemilikan umum, meskipun kita mencoba mengubah statusnya menjadi kepemilikan individu.

Jika aset yang dijual adalah milik negara, bolehkah negara menjual atau memberikannya?

Pada dasarnya Negara boleh menjual atau memberikan hartanya kepada individu ataupun kelompok. Namun perlu diingat, bahwa kepemilikan negara berkaitan dengan hak kaum muslimin dimana pengaturan Khalifah terhadapnya tidak boleh menimbulkan mudharat kepada kaum muslimin. Maka dari itu, meskipun hukum asalnya mubah, tetapi penjualan negara terhadap aset miliknya –sebagaimana terjadi dalam program privatisasi– hukumnya menjadi haram, karena privatisasi telah menimbulkan berbagai kemudharatan, seperti yang telah diterangkan. Kaidah syara’ menetapkan : “Al Wasilah ilal haram haram” “Segala sarana kepada keharaman, hukumnya haram pula.”

Kedua, privatisasi menyebabkan harta hanya beredar di kalangan orang kaya saja, baik perorangan maupun perusahaan. Dengan demikian, orang banyak tidak dapat memanfaatakan harta tersebut dan pada gilirannya distribusi kekayaan akan semakin timpang. Hal ini tidak dibenarkan menurut Islam, sesuai firman Allah SWT : “…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS Al Hasyr : 7)

Memang, ayat di atas mengharamkan beredarnya harta hanya di kalangan orang kaya di antara umat Islam (aghniya’i minkum). Namun demikian, ayat itu juga berlaku untuk orang kaya di kalangan kaum kafir. Sebab, bila harta tak boleh hanya beredar di antara orang kaya muslim, maka kalau hanya beredar di antara orang kaya kafir jelas lebih tidak boleh lagi, sesuai dengan pengamalan mafhum muwafaqah dalam ilmu ushul fiqih.

Ketiga, privatisasi menimbulkan dominasi dan hegemoni kaum kafir atas kaum muslimin. Dengan privatisasi, individu atau perusahaan kapitalislah yang nantinya akan menguasai dan mengendalikan negeri-negeri Islam, baik di bidang ekonomi maupun politik. Negeri-negeri Islam akan terjerumus dalam cengkeraman imperialisme ekonomi. Hal ini diharamkan oleh Islam, Allah SWT berfirman : “…dan Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mu`min.” (QS An Nisaa` : 141)

Keempat, Privatisasi merupakan perantaraan (wasilah) munculnya kemudharatan bagi kaum muslimin. Sebagaimana telah diuraikan, privatisasi akan menimbulkan pengangguran akibat PHK, memperbanyak kemiskinan akibat pengurangan gaji pegawai, menghilangkan sumber-sumber pendapatan negara, membebani konsumen dengan harga-harga atau tarif-tarif yang melambung akibat pajak tinggi atas perusahaan terprivatisasi, menghambur-hamburkan kekayaan negara pada sektor non-produktif, menghalangi rakyat untuk memanfaatkan aset kepemilikan umum, serta memberi peluang masuknya serangan pemikiran dan budaya kapitalis atas kaum muslimin. Semua ini merupakan kemudharatan yang diharamkan keberadaannya atas kaum muslimin. Dan privatisasi yang menjadi jalan ke arah itu, haram pula hukumnya. Kaidah syara’ menetapkan : “Al Wasilah ilal haram haram” “Segala sarana kepada keharaman, hukumnya haram pula.”

Penutup

Dengan uraian di atas, nyatalah bahwa privatisasi sebenarnya adalah program imperialis yang sangat jahat, yang dijalankan oleh negara-negara kapitalis untuk merampas harta kekayaan kaum muslimin dan menghancurkan perekonomian mereka.

Karena itu kaum muslimin hendaknya sadar, bahwa negara dan pemerintah kita yang mengimplementasikan program tersebut, hakikatnya berbuat hanya untuk memuaskan kaum penjajah yang kafir. Bukan untuk memelihara dan menjaga kepentingan rakyat dan umat.

Dengan demikian, sudah sepatutnya rezim yang berkhianat seperti ini harus secepat-cepatnya ditumbangkan dan diganti dengan Sistem Islam yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pemelihara urusan rakyat yang selalu memperhatikan, mempedulikan, dan mengedepankan kepentingan umat dan rakyat.

@ Disarikan dari berbagai sumber []

*Materi Kajian Intelektual Pembebasan pada hari rabu, 01 April 2009 di taman Hijau IAIN Antasari

Minta Tolong

Filed under: Ekonomi, khalifah — Tag:, , , — pembebasaniain @ 2:36 pm

yang akan melahirkan pemimpin sejati

yang akan melahirkan pemimpin sejati

Acara: Minta Tolong

Stasiun Penayang: RCTI

Tanggal tayang: 17 Maret 2009

Sungguh tak kusengaja, kala mau melihat berita sore ada tayangan REALITI SHOW. Nama acaranya MINTA TOLONG.

Seorang bocah kecil memakai pakaian lusuh membawa sehelai kain robek (punya adiknya) ia berharap kain lusuh itu bisa diganti dengan baju yang baru. Tema MINTA TOLONG kali itu adalah, “Tukar Baju Robek dengan Baju Baru”.

Peluh bercucuran dari dahinya yang kusut dan imut, di layer TV tertulis sudah 77 orang yang dia mintai pertolongan (menukar baju robek dengan baju baru) kesemuanya menolak.

Ada persitiwa yang amat menarik.. Pada awalnya seorang pemuda menolak membantu, namun setelah dia tahu itu dari tim MINTA TOLONG, ia memburu anak kecil itu… (MENOLONG DENGAN PAMRIH).

Hm, Imam Al Ghazali dalam kitab MINHAJUL ‘ABIDIN, menulis bahwa khotir (gerak hati) manusia terkadang digentayangi oleh aura syetan. Nah, pemuda ini menolong dengan pamrih dapat hadiah (dunia), bukan lantaran ikhlas menolong. Kita bisa menarik hikmah, dalam hidup ikhlas beramal, ikhlas beribadah dlsb adalah sesuatu yang sulit di zaman ini. Bahkan seorangan pelayan umat (pejabat) kian begitu sulit ikhlas dalam melayani. Imam Al Ghazali lantas menulis lagi,

Sesungguhnya dunia ini adalah musuh Allah, sedang kamu orang yang mencintainya, dan barang siapa yang mencintai seseorang, tentu ia ikut membenci musuh kekasihnya.”

Ia melanjutkan,

Sesungguhnya dunia berasal dari kotoran bangkai. Tidakkah kamu lihat dunia berakhir dengan keadaan kotor, binasa, rusak, dan habis? Tapi karena bangkai tersebut diperciki wewangian dan dibungkus dengan perhiasan, maka orang-orang yag lalai menjadi tertipu dengan melihat sisi luarnya, sedang orang-orang yang sempurna akhirnya akan pergi menghindar darinya!” (Minhajul ‘Abidin, Imam Al Ghazali hal 80-81)

Lantas, bagaimana nasib bocah tadi, akhirnya bertemulah dengan ibu muda (Budi Wahyuni, 22 th) dengan membonceng anaknya di sepeda. Pendek kata, ibu muda ini terenyuh dan mau menolong dengan ikhlas (sang bocah ikut dibonceng ke rumah ibu muda itu (sampai sini airmataku meleleh, ah ternyata di zaman edan ini masih tersisa jiwa lembut, yang menolong tanpa pamrih).

Lantas, si bocah disuruh memilih banyak baju yang ditawarkan oleh. Puas memilih, si bocah minta diantarin pulang (Ibu muda itu menurutinya).

Di akhir acara, tim RCTI mendatangi ibu muda itu dan berbasa-basi, setelah itu tim RCTI memberikan sedikit uang (ganjaran) atas ketulusan dan keihlasan ibu muda itu. Dengan derail tangis wong cilik itu menerimanya. Hm, di dunia ini kebaikan saja bisa dilipatgandakan 10 kali apalagi pahala di akhirat kelak, Subhanallooh.

Ternyata, Ibu muda ini ditinggalkan suaminya semenjak hamil, namun apa yang dikatakannya, “Untuk suamiku, sekarang anakmu sudah besar dan namanya Prasetyo, aku akan memaafkanmu.” Sungguh luar biasa, hari ini kita belajar banyak dari kisah KETULUSAN dalam BERAMAL.

Semoga pemimpin kita (Imam dan Khalifah, ketika Daulah Khilafah itu tegak kembali) ia bisa mengunjungi kaum-kaum fakir, memanggul sendiri sembakonya (seperti khalifah Umar).

Kita tetap berharap, atas taufiq dan pertolonganNya bahwa KEHIDUPAN ISLAM akan ‘kembali’ menaungi bumi, hingga carut-marut kehidupan ini akan sirna, hingga punah orang-orang yang berambisi mengeruk dunia dan meraih kekuasaan semata.

Adakah sebuah negeri itu berkah, tanpa naungan DAULAH KHILAFAH? Entah!

Allaahu wa rasuuluhu a’lam,

Yogya, 18 Maret 2009 11.06

Apu’

14 Maret 2009

Menjegal Demokrasi

Filed under: Demokrasi, Ekonomi, khilafah, nashrah, Pemilu — Tag:, , — pembebasaniain @ 6:20 pm

demokrasi-sang-penjegal

PENYELENGGARAAN PEMILU 2009 dengan anggaran yang telah disetujui DPR adalah Rp. 14,1 trilyun. Sedangkan biaya kampanye dari caleg yang berjumlah ribuan orang, ada yang berani menaksir menembus angka Rp. 50 trilyun. Jika itu caleg, lain untuk kampanye presiden, bisa kita ambil gambaran empat tahun silam. SBY-JK saja menghabiskan Rp. 47 miliar! Fenomena ini tidak hanya ditemukan di Indonesia. AS, George W. Bush menghabiskan US$ 36 juta untuk iklan televisi. Untuk hal yang serupa, Obama merogoh kocek US$ 3,3 juta (Rp. 3,9 miliar) untuk satu hari saja.

Lalu, darimana dana itu sejatinya datang? Sudah sering diutarakan, para empu kapitalis adalah donatur potensial bagi mereka. Jangan dikira sepenuhnya mereka memberi dengan ikhlas tanpa kalkulasi dan titipan kepentingan. Sehingga bagi para pemenang, berkewajiban “balas budi” dalam bentuk pemberian regulasi, produk undang-undang dan segala proyek yang menguntungkan kepada para konglomerat kapitalis. Posisi rakyat? Cuma perahan yang dimintai suara, lepas mendapat legitimasi lalu ditinggalkan.

Banyak dosa-dosa demokrasi yang harus kita jaga baik-baik dalam ingatan. UU Penanaman Modal, UU Migas, UU Sumber Daya Alam, UU BHP/BHMN, serta segenap tindakan lain yang sangat tidak pro rakyat. Semuanya justru mengukuhkan penjajahan dan perampokan ala neo liberal terhadap rakyat Indonesia. Tidak aneh, mengingat demokrasi itu sendiri adalah buah sistem kapitalisme.

Diukur dengan Islam pun, demokrasi jelas-jelas sistem kufur. Ada perbedaan fundamental antara demokrasi dan Islam. Demokrasi meletakkan ukuran benar dan salah serta kedaulatannya bersumber pada prinsip mayoritas, rakyat yang makhluk. Sedangkan Islam mutlak menyatakan bahwa sumber hukum itu syara’ (Qur’an dan Sunnah), inil hukmu illa lillah (QS. Al An’am: 57).

Walau pada kenyataannya, jargon suara rakyat–suara tuhan itu bohong belaka. Demokrasi cuma untuk kaum sekuler, bukan kaum muslimin. Lihat saja, kemenangan mutlak FIS, Aljazair (81 %, Desember 1991) yang mengusung agenda masyarakat dan Negara Islam, malah dibantai junta militer dengan dukungan AS dan Perancis. Hamas yang menang pemilu dan terkenal tegas membela kepentingan kaum muslimin Palestina, justru diboikot dan tidak diakui oleh AS. Sudah mubadzir dan thaghut, munafik pula.

Demokrasi tak lebih dari sekedar ajang perhelatan pemain baru di panggung yang lama. Ganti wajah ganti rezim, tetap tindas tetap jajah. Tak ada bosannya kami mengingatkan. Itu dia akar masalahnya! Penerapan sistem kufur dan busuk ini. Tidak ada jalan keluar dan jalan selamat selain dengan turun revolusi. Ganti sistem dan muliakan Islam pada tempatnya semula. Rakyat Indonesia di bawah naungan syariah dan khilafah. Maha Besar Allah dengan sistemNya yang sempurna.

__________________________________________________________________

PW GP Kalsel | CP. 05116261788

24 November 2008

Pamflet Mimbar Bebas

Filed under: Ekonomi, Pamflet — Tag: — pembebasaniain @ 1:53 pm
Mimbar Bebas

Mimbar Bebas

Older Posts »

Blog di WordPress.com.