PK GP IAIN Antasari Banjarmasin

11 April 2009

Aksi Tolak Janji Kosong Pesta Demokrasi

Diarsipkan di bawah: Aksi, Demokrasi, Kegiatan, Pamflet, Pemilu, Politik, khilafah — Tag:, , , , , , — pembebasaniain @ 4:42 pm

MINGGU, 05 APRIL 2009, PIMPINAN WILAYAH GERAKAN MAHASISWA PEMBEBASAN KALIMANTAN SELATAN, MENGKOORDINIR PARA ANGGOTANYA UNTUK BERSAMA-SAMA MELAKUKAN AKSI TOLAK JANJI-JANJI KOSONG PESTA DEMOKRASI, DI SIMPANG EMPAT KOLONEL SOEGIONO.

WALAUPUN RAKYAT INDONESIA SEDANG BERPESTA DEMOKRASI, GERAKAN INI MALAH MENENTANG, DAN BERUPAYA MENYADARKAN MASYARAKAT, BAHWA ITU SEMUA ADALAH OMONG KOSONG.

AKSI INI SENDIRI BUKANLAH AKSI LONG MARCH, NAMUN AKSI DI TEMPAT, DENGAN MEMBAGI-BAGI SELEBARAN, MEMPERLIHATKAN PAMFLET-PAMFLET PENOLAKAN, DAN TIDAK LUPA ORASI KETIKA PENGENDARA BERHENTI.

GERAKAN INI PUN MEMBERIKAN PILIHAN ALTERNATIF, AGAR MASYARAKAT INDONESIA SEJAHTERA, YAKNI DENGAN MEMILIH SYARIAT ISLAM SEBAGAI PANDANGAN HIDUP MANUSIA, DAN MEMBUANG DEMOKRASI .

MAGHFUR (BANJAR TV)

wawancara

orasi-2

bagi-selebaran-2

bagi-selebaran-3

bagi-selebaran-4

bagi-selebaran

briefing

korlap-dan-ketua-umum

korlap

orasi-2

orasi-3

orasi

pamflet-2

pamflet

peserta-2

peserta-3

peserta-4

peserta

peta-aksi

siap-aksi

7 April 2009

”PRIVATISASI dan KEPENTINGAN PEMILU”

Diarsipkan di bawah: Demokrasi, Materi Kajian, Pemilu — Tag:, , — pembebasaniain @ 3:00 pm

Pembaca yang budiman, pemilu hanya tinggal menunggu hari. Sebuah pesta demokrasi akbar akan segera berlangsung, semua pihak yang terlibatpun begitu sangat sibuknya. KPU sebagai komisi yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakannya bak dikejar anjing di kolong jembatan, sehingga beberapa kalangan ada yang meminta agar waktu pemilu diundur.

Partai dan paca Caleg tidak jauh beda, mereka dengan gencarnya melakukan pengenalan diri kepada masyarakat, mulai dari spanduk, baleho sampai iklan-iklan di Televisi atau bahkan mengadakan hiburan yang dapat menarik simpatisan masyarakat.

Ditengah hiruk – pikuknya persiapan pemilu dan ditengah hingar – bingarnya Partai dan para Caleg dalam melakukan kampanye seharusnya menjadi pertanyaan besar bagi kita, dari mana dana semua itu berasal? Sementara kita semua sudah maklum bahwa untuk mengadakan sebuah pemilu perlu dana yang tidak sedikit. Semisal pemilu 2004 yang lalu, Cawapres Mega-Hasyim menghabiskan Rp 84 Milyar dan SBY-JK 74 mengahabiskan Rp 74 Milyar. Pada pesta demokrasi 2009 kali ini KPU menganggarkan Rp 47,9 Triliun, angka ini tentu belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing caleg. Konon untuk menjadi caleg setingkat DPRD paling tidak menyediakan dana Rp 50 – 100 juta, dan setingkat DPR RI menurut salah satu kader Golkar minimal menyediakan dana Rp 400 juta.

Mahal bukan? Yah itulah demokrasi memang mahal. Namun yang lebih parah adalah bahwa ternyata semua itu tidak membawa pada kesejahteraakn rakyat. Yang ada malah rakyat semakin sengsara.

Kembali pada pertanyaan awa tadi, dari mana dana yang sangat besar itu berasal??

Inu Kencana Syafii (mantan dosen IPDN) menyatakan bahwa secara umum ada dua strategi yang digunakan para caleg dalam mendapatkan dana. Pertama. Para caleg itu memang pengusaha sehingga memiliki dana yang cukup. Tentu hal ini akan sangat berbahaya, karena hampir dapat dipastikan ketika mereka terpilih yang difikirkan pertama kali adalah bagaimana caranya agar balik modal. Kedua, para caleg itu maju dengan dukungan para pengusaha/pemilik modal. Cara inipun tidak akan melepaskan petaka ketika mereka terpilih, karena ‘tidak ada makan siang gratis’. Sosiolog Imam B Prasojo, mengatakan setiap pemilik modal memiliki hitung-hitungan terhadap caleg yang mereka dukung, yang sebagai imbalannya berupa undang-undang atau regulasi atau proyek-proyek yang bakal menguntungkan mereka.

Bagi mereka yang telah duduk dianggota dewan dan ingin mencalonkan diri kembali, tentu jabatan itu tidak jarang dijadikan sebagai sapi perahan untuk meraup dana. Mulai dari cara-cara keji, seperti korupsi atau melalui sistem yang seolah-olah disahkan. Salah satu yang menjadi sorotan beberapa kalangan adalah program Privatisasi BUMN.

Indonesia Coruption Watch (ICW) mensinyalir, dalam rencana privatisasi BUMN tidak menutup kemungkinan ada agenda pengumpulan dana pemilu. “Privatisasi BUMN merupakan sumber dana politik” kata Koordinator Bidang Info Publik ICW, Adnan Topan Husodo. Hal senada dilontarkan oleh Marwan Batubara, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta yang juga mengkhawatirkan akan digunakannya privatisasi sebagai cara mencari dana pemilu.

Tentunya ke khawatiran-kekhawatiran tersebut bukanlah tanpa sebuah alasan, pasalnya disetiap periode Privatisasi begitu gencar di kumandangkan bahkan dicanangkan terlebih-lebih mendekati tahun-tahun pemilu. Pada tahun 1991 pemerintah menjual 35 % saham Semen Gersik, tahun 1995, pemerintah menjual 35 % saham tambang timah dan 23 % sahan PT Telkom.

Pasca Orde Baru, masuk Reformasi kebijakan Privatisasi tidak berubah, pada tahu 1998 Pemerintah kembali menjual 14 % saham PT Semen Gersik dan pada tahun 1999 menjual 9,62 % saham PT Telkom, 51 % saham Pelindo II, 30 % saham Sucufindo, serta 11,9 % saham PT Telkom.

Saat ini dibawah nahkoda Sofyan Djalil, privatisasi bahkan sepertinya menjadi focus utama. Bagaimana tidak pada tahun 2008 saja pemerintah telah menyiapkan 35 BUMN untuk diprivatisasi. Jumlah yang sangat besar ketimbang periode sebelumnya, meski sempat ada beberapa penundaan akibat Krisis Global yang melanda dunia. Namun penundaan tersebut rupanya tidak membuat pemerintah berpaling arah, pasalnya BUMN yang tertunda menjadi prioritas utama tahun 2009.

Melihat maraknya agenda Privatisasi yang dilakukan pemerintah adalah wajar apabila banyak kalangan menduga program tersebut hanya akan menjadi kepentingan politik untuk mencari dana Pemilu, melihat untuk menjadi Caleg harus memerlukan dana yang sangat besar, terlebih lagi transfransi terhadap penggunakan dana hasil penjualan BUMN itu masih tidak jelas. []

Oleh: Joko Priyono – Ketua Umum PK GP Poliban Banjarmasin

joko-priyono

6 April 2009

Pilih Yang Busuk (2)

Diarsipkan di bawah: Demokrasi, Pemilu, nashrah — Tag:, , , — pembebasaniain @ 1:15 pm

Ini artikel dari selebarannya. Selabaran ini dibagi-bagikan oleh krunya di Kampus IAIN Antasari, sekitar 1.500 lembar. Pada tanggal 07 April 2009.

_____________________________________

YANG BUSUK-BUSUK

MASIHKAH MEREKA INGAT akan janji 5 tahun silam? Persis saat kampanye dan memohon kepada kita, rakyat, untuk percaya dan memilihnya. Tapi janji tinggal janji. Lagi di tahun ini, dengan tidak tahu malu, mereka kembali dengan janji lama dan janji baru. Cuih! Cuma manusia bego yang jatuh berkali-kali di lubang jebakan yang sama. Pejanji yang busuk.

Penyelenggaran Pemilu 2009 dengan anggaran yang telah disetujui DPR adalah Rp. 14,1 trilyun. Sedangkan biaya kampanye dari caleg yang serjumlah ribuan orang, ada yang berani menaksir menembus angka Rp. 50 trilyun (Media Umat). Belum terhitung untuk kampanye capres-cawapres nanti. Dengan mahalnya biaya demokrasi, para kapitalis bisa bermain dengan menjadi penyokong dana partai, caleg, dan capres untuk naik sampai kekuasaan. Selanjutnya, layanan (balas budi) berupa pemberian proyek, regulasi dan UU akan mereka dapatkan. Kapitalisme berkuasa, rakyat sengsara. Kapitalis busuk datang lagi.

Setengah caleg ditengarai penuh masalah. Ijazah palsu, uang palsu untuk money politic, hingga melakukan tindak kriminal. Bahkan, dukun menjadi primadona untuk dimintai bantuan (Sabili.com). Segala cara mereka halalkan. Cara busuk untuk calon pemimpin busuk.

Tidak kalah menakutkan dengan apa yang terjadi pada partai peserta pemilu 2009. Ada kebrutalan ideologis. Partai nasionalis-sekuler mencoba religius, yang Islam mencoba menjadi partai “terbuka”. Ada lawan malah jadi kawan. Ada yang loncat pagar kesana-kemari.

Hingga perpecahan internal berbuntut lahirnya partai-partai baru. Identitas menjadi kabur. (Sabili, 04/09). Garis pembatas ideologi dan idealisme mampus dimakan busuknya pragmatisme dan materialisme.

Profesi caleg pemilu 2009 pun beragam. Selain koruptor dan artis, ada tukang becak, pengangguran, ibu rumah tangga, hingga calo terminal (Kompas.com); bahkan para kriminil tak mau ketinggalan. Kita bisa bertanya, apa mereka punya kapasitas untuk memimpin negeri ini?

Sistem demokrasi yang kufur juga berwatak munafik. Kufur karena mereka menjadikan manusia dan suara terbanyak sebagai kedaulatan, bertentangan dengan Islam yang menjadikan Asy-Syari’ sebagai kedaulatan. Demokrasi Busuk dari akar. Munafik karena demokrasi Cuma untuk kaum sekuler, bukan Islam. Lihat saja, kemenangan mutlak FIS, Aljazair (81 %, Desember 1991) yang mengusung agenda masyarakat dan Negara Islam, malah dibantai junta militer dengan dukungan AS dan Perancis. Hamas yang setia membela kepentingan kaum muslimin Palestina, ketika memenangi pemilu justru diboikot dan tidak diakui oleh AS. Sifat demokrasi memang busuk.

Wahai kita, mari gaungkan kata TIDAK untuk segala janji dan mimpi tidak mutu demokrasi. Kata TIDAK untuk politisi dan sistem busuk adalah wajib bagi satu kemerdekaan hakiki. Kata TIDAK untuk sistem selain Islam adalah solusi fundamental atas segala lingkaran setan ini. Bagi yang masih waras, yang busuk-busuk memang cuma berhak menempati lubang toilet atau tong sampah. SEPAKAT.

PILIH YANG BUSUK-BUSUK (1)

Diarsipkan di bawah: Demokrasi, Gerakan, Pamflet, Politik, khilafah — Tag:, , , , , — pembebasaniain @ 12:45 pm

Ini adalah oleh-oleh dari teman-teman seperjuangan dari gerakan lain untuk GP Komsat IAIN Antasari, yaitu Rebel Institute, ada Pamflet, Selebaran, Artikel Tempel, dan stiker. Enjoy!

A.  Pamflet

1.  Silahkan pilih

politis busuk, sistem busuk, partai busuk

politis busuk, sistem busuk, partai busuk

2.  Silahkan injak

pamflet-injak2B. Artikel Tempel

artikel-tempelC. Stiker

1. Logo RI

logo-ri2. Furqan

furqan3. Haq dan Bathil

black-n-whiteD. Link

silahkan download oleh-olehnya di sini

3 April 2009

Foto Kajian Intelektual Pembebasan, 01 April 2009

Diarsipkan di bawah: Ekonomi, KIP, Kegiatan, foto — Tag:, , , — pembebasaniain @ 3:37 pm

GP Komsat IAIN, kembali mengadakan Kajian intelektual Pembebasan di tiap minggu, dan pada minggu ini, mereka mengundang Ketua umum GP komsat Poliban, Joko Priyono. guna mengisi kajian yang mereka adakan, rabu, 01 April 2009, di taman hijau IAIN Antasari.

Dalam materinya, Joko mengemukakan privatisasi bukanlah solusi, yang sering digembar-gemborkan kaum liberal, namun itu semua adalah pengkhiatan mereka kepada rakyat.

Selain membongkar kebobrokan privatisasi, Joko juga mengaitkan tema tersebut dengan pemilu di Indonesia, dimana itu semua punya keterkaitan.

Joko Priyono - Ketua GP Komsat POLIBAN

foto002

lingkaran-kajian-pada-awal-acara

dari kanan - Najad (ketua GP ranting fakultas syariah IAIN antasari) dan tamu dari gp poliban

maghfur

dari kanan - amin - najad - tamu

lingkaran kajian di tengah acara - mulai tambah banyak

tampak depan

Ardi dan Joko

pengurus komsat IAIN dan komsat poliban 1

IAIN & Poliban

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.